Rabu, 30 Maret 2011

bagaimana membuka pasword blackberry

bagaimana membuka pasword blackberry

aplikasi password folder gratis, harga hp nokia second type 2700 clasic, utuk mengedit foto, harga bb bulan oktober 2010, gimana cara membuka my lockbox menjadi pro, aplikasi penting yang harus dimiliki oleh windows 7, harga hp n series TMG kini bersiap untuk merekrut karyawan dan membuka kantor di Jakarta, lalu kenapa Indonesia dan kenapa TMG memilih akan membuka kantor di Jakarta? Alvin Yap founder dari TMG, menjelaskan pada DailySocial bahwa perekrutan karyawan Layar AMOLEDnya sekarang bisa kamu buka, untuk tidak direkatkan ke casing depan, jadi kalo suatu hari nanti layarnya pecah kamu ga perlu beli keduanya (casing depan dan layar) seperti bebrapa ponsel lain (lihat gambar dipojok atas). Hati- hati melepas flexibelnya. LANGKAH 3 (BONGKAR MESIN). Selanjutnya jika kamu ingin bongkar mesin nokia n8 bisa bongkar baut yang tersisa seperti pada gambar dibawah . Cari Tulisan di Blog Ini. Jika dibutuhkan, gunakan password: adit38 Bagaimana cara munculin extensi file di Windows Explorer Windows Explorer, Anda dapat melakukan ini dengan membuka I'm Existing User New User? Register Now . Email * Password *
Bagaimana melihat daftar kontak ketika sedang dalam Ingin membuka percakapan AOL Instant Messenger yang sudah " Can't update blackberry messenger! "3
Cara membuka Blackberry yang terkunci tersebut mudah saja. Anda tidak perlu repot-repot mengantri di customer service atau menelpon layanan pelanggan yang sampe botak juga tidak menyelesaikan masalah (gw nyoba sendiri 'capeknya' nelpon bagaimana cara membuka sandisk cruzer yang terblokir? Password remover? how to un write protect a sd card? Have an 8gb PNY card in my Blackberry which is locked?kemaren waktu sesudah install document to go yang baru, keluar pertanyaan reset now sama reset later. aku pilih reset now. waktu udah selesai reset, homescreenya ter lock terus. gak bisa di buka. tapi kalo pencet tombol blackberry lama" Nah aplikasi Elcomsoft Phone Password Breaker (EPPB) ini dengan segala kesaktiannnya mampu membuka password tersebut serta mampu mendekripsi alias membongkar data Blackberry yang tadinya telah disandikan.
Berita baik bagi para usahawan atau peminat blackberry solution untuk menerima dan menghantar email secara terus tanpa membuka Bagaimana untuk memohon?1. Bagaimana cara membuka account ? keputusan tersebut beserta dengan login dan password Blackberry PIN: 224A9D56. Brokerage Permit License: 188
Bagaimana cara memprint file pdf yang di proteksi? masa gak selalu maju selangkah dari polisitutorial cara membuka hilman.web.id di mana saja melalui ponsel, Blackberry, iPhone
Ikuti Survey Red Mango Berhadiah Blackberry Gratis Hack Password Friendster Pengunjung Warnet Dengan Bagaimana Cara Menjadi Hacker; Apa Itu Naruto ? Trik Membuka Bahkan, UAE juga berencana memblokir Blackberry berikut layanannya. UAE baru sebatas mengancam akan memblokir layanan terkait masalah resiko keamanan. Kini UAE membuktikan ketegasannya pada Research in Motion (RIM) selaku produsen
Saya berkesimpulan aplikasi ini tidak dapat membaca karakter angka 0 ( Nol ) dan sampai saat ini BB saya pun tidak dapat membuka password dan terkunci total. melalui forum ini,siapa tau ada rekan2 yang dapat membantu permasalahan saya. BlackBerry 9300 dilengkapi dengan OS BlackBerry versi 5 seperti yang digunakan oleh BlackBerry Onyx 9700. Tampilan kedua BlackBerry ini hampir sama, kami tidak menemukan atau mendapatkan jeda saat membuka menu pada BlackBerry 9300. Pada bagian home screen terdapat status Untuk menggunakan Email atau Push Email yang perlu anda lakukan adalah memasukan alamat email dan password email, kemudian handphone akan secara otomatis melakukan pengaturan email untuk anda.
* Password protection and keyboard lock * Support for AES or Triple Bagaimana membuka kode reset master untuk kurva Blackberry. Selama 5 bulan sebelum saya membuka situs saya dari bagaimana cara membuka kunci pin pada hp Nokia 221. how do i connect plantronics handsfree to my blackberry i typd my password in. i typd my password in
Bagaimana cara download Facebook For BlackBerry di Bold 9700 Onyx Ketiga, klik BlackBerry HELP! untuk membuka browser BlackBerry masukkan kredensial (email dan password
Sementara di Indonesia banyak yang dengan secara sengaja membagi-bagikan nomor HP, alamat, nomor PIN BlackBerry dan identitas lainnya di FB mereka. Tanpa disadari, kalau ada orang yang berniat tidak baik, data-data ini bisa dengan sangat . 2lisan com/tips-tricks/menampilkan-password-yang-tersembunyi-dengan-asterisk-key/ buka password email orang,cache:yS9ahrI6htgJ:www 2lisan com/tips-tricks/menampilkan-password-yang-tersembunyi-dengan-asterisk-key/ software baca kata

Sejarah dan pemikiran tasawuf di aceh

Sejarah dan Pemikiran Tasawuf di Aceh

  1. Sejarah Masuknya Islam di Aceh

Pembahasan sejarah dan pemikiran tasawuf di Aceh, terkait erat dengan sejarah dan masuknya Islam itu sendiri. Masuknya Islam di daerahini mempunyai kontribusi yang sangat besar bagi penyebaran Islam di Nusantara. hampir semua sejahrawan sepakat bahwa Islam pertama kali masuku ke Nusantara bermula di Aceh. Islam dating pertama kali di Indonesia melalui jalur perdagangan yang dilakukan oleh saudagar-saudagar imelaluibjalan laut Aden menyusuri pesisiran pantai India Barat dan Selatan, juga ada dari Khurasan kemudian Khutan, padang pasir Gobi, Sungthu, Nansyau, Kanton, kemudian menyebaerangi Laut China Selatan nasuk ke gugusan pulau-pulau Melayu melalui pesisir pantai Timur Semenangjung Melayu. Keadaan ini menyebabkan Para saudagar ini tinggal di Nusantara. Kesempatan ini digunakan untuk mendakwahkan Islam ditempat-tempat yang mereka singgahi. Diantara mereka banyak yang menikahi penduduk asli dan menghasilkan generasi baru di abad ke -7 M.

Ketika awal-awal kedatangannya itu, islam hanya sebgai kegiatan dakwah dan belum muncul sebagai kekuatan politik. Lama kelamaan baru muncul sebagai kekuatan politik, yakni dengan munculnya kerajaan-kerajaan Islam di sekitar wilayah Aceh ini. Sebelum nama “Aceh” lahir sebagai sebuah kerajaan Islam, terdapat 6 daerah terpenting di ujung utara Sumatra diantara kerajaan Perlak, Samudra Pasai, Teumiang(Negeri Myanmar), Pidie, Indera Purba, Soudu. Dalam perkembangan selanjutnya, keenam daerah tersebut tersatukan menjadi daerah Aceholeh Sultan HuseinSyah yang memerintah Aceh Darussalam pada tahun 870-885 H/1465-1480. Di masa inilah baru terbentuk kesatuan Aceh, yaitu satu agama, satu bangsa, dan satu Negara, dan kesatuan inilah Aceh menjadi kuat dan megah hingga mencapai zaman kegemilangannya.

Atas kedatangan para ulama itu, pemikiran, penghayatn, pengalaman, dan pengamalan keagamaan begitu berkembang di kawasan kerajaan Islam Aceh. Diasamping itu, tasawuf dan tarekat juga berkembang peasat mewarnai kehidupan keagamaan di Aceh. Dari Aceh ini kemudian tasawuf dan tarekat tersebar luas ke seluruh Nusantara, bahkan sampai berpengaruh ke daerah Pattani dan wilayah-wilayah lain di Semenanjung Melayu.

B. Penyebaran Islam dalam Pendekatan Sufistik

Berkenaan pendekataan yang digunakan oleh para penyebar Islam di Nusantara, tampaknya ada beberapateori yang berkembang, antara lain: Pertama, ada yang menyebutkan bahwa sejarah masuknya Islam di Nusantara adalah dengan pendekatan perdagangan. Teori ini cukup beralasan, karena sejak lama bangsa Indonesia sudah menjalin hubungan perdagangan dengan bangsa-bangsa Arab, Gujarat, dan China. Kedua, ada yang menyebut dengant pendekatan perkawinan, yakni para pendatang dan pedagang-pedagang Muslim dari Timur Tengah dengan penduduk setempat. Dari perkawinanini melahirkan generasin Muslim baru di Nusantara. Ketiga, pendekatan politik yaitu upaya dakwah yang dilakukan para pedagang dan pendatang Muslim yang kemudian berhasil mengislamkan raja-raja dan pembesar istana yang sebelumnya menganut agama Hindu atau Budha. Keempat, pendekatan sufistik. Teori ini cukup berasalan, karena para penyiar Islam sesungguhnya adalah ulama –ulama yang memiliki pengetahuan dan pengalaman sufistik. Mereka tampil sebagai ulama-ulama yang mempraktikkan tarekat tertentu. Ulama-ulama tsb tampil sebgai figure-figur sufi kharismatik, berwibawa, dan arif dan disertai sikap yang akomodatif terhadap budaya setempat.

Dalam teori A.H.Johns, mengakui bahwa Islam dating ke Indonesia melalui para sufi pengembaralah yang kelihatan leibh berhasil melakukan penyiaran Islam di kawasan ini. Para sufi ini berhasil mengIslamkan sejumlah besar penduduk Nusantara setidaknya sejak abad ke -13. factor utama keberhasilan konversi adalah kemampuan para sufi menyajikan Islam dalam kemasan atraktif, khususnya dengan menekankan kesesuian dengan Islam atau kontiunitas dari pada perubahan dalam kepercayaan dan praktik keagamaan local. Dengan menggunakan tasawuf sebgai sebuah kategori dalam literature dan sejarah Melayu-Indonesia, Johns memeriksa sejumlah sejarah local untuk memperkuat teorinya ysng mengatakan bahwa betapa signifiksn peran yang dimainkan para sufi dalam proses Islamisasi.

C. Sejarah Pemikiran Tasawuf di Aceh

Pemikiran tasawuf di Aceh banyak terkait dengan pemikiran-pemikiran tasawuf di wilayah­-wilayah lain di Nusantara, baik dari aspek sejarah maupun substansi pemikirannya. Dari aspek sejarah banyak terbukti bahwa dari tokoh-tokoh sufi Aceh inilah kemudian tasawuf menyebar dan membentuk jaringan-jaringan ke seluruh Nusantara. Sedangkan secara substansial, pemahaman tasawuf di Aceh mempengaruhi daerah-daerah lain ada kecenderungan isi dan corak pemikiran tasawufnya mirip dengan tasawuf dii Aceh, kendati pun sebetulnya sedikit banyak telah mengalami pergesaran-pergeseran atau mengalami modifikasi.

Ketika Aceh sedang mengalami puncak kejayaannya ternyata secara substansial, mazhab tasawuf Ibnu Arabi dan al-Jilli yang berwatak pantheisme telah mendominasi pemikiran dan penghayatan keagamaan dalamistana dan kalangan masyarakat umum, terutama karena ajaran itu telah diantu dan disebarkan oleh 2 orang pemuka tasawuf Aceh terkenal yaitu Hamzah Fansuri dan muridnya Syamsuddin Sumatrani (w 1630). Melalui 2 orang sufi ini, ajaran tasawuf Ibnu Arabi yang kemudian di Aceh dikenal dengan wujudiyyah- memperoleh kemajuan sangat pesat dan dianut secara luas oleh masyarakat umum dan kalangan istana. Melalui kitab-kitab dan sejumlah muridnya, ajaran tasawuf Wujudiyyah menjadi ajaran formal dan mendapat dukungan luas masyarakat Aceh.

1. Hamzah Fansuri dan pemikiran Tasawufnya

Hamzah Fansuri dilahirkan di kota Barus, sebuah kota yang seorang Arab zaman dahulu dinamai “Fansur”. Itukah sebabnya dibelakang namanya disebut “Fansuri”. Kota Barus atau Fansur, yang merupakan pusat pengetahuan Islam lama di Aceh Barat Daya. Kota Fansur itu, tepatnya terletak di pantai barat Provinsi Sumatra Utara, diantara Singkil dan Sibolga. Tidak diketahui dengan pasti tentang tahun kelahiran dan kematian Hamzah Fansuri, tetapi masa hidupnya diperkirakan sebelum tahun 1630an, karena Syamsuddin Pasai (Sumatrani) yang menjadi pengikutnya dan komentataor bukunya dalam tulisannya Syarh Rub,’ Hamzah Fansuri meninggal pada tahun 1630.

Hamzah Fansuri memiliki karya-karya yang cukup banyak dalam kesustraan Melayu –Indonesia tercatat buku-buku syairnya diantaranya Syair Burung Pingai, Syair Dagang, syair Punggug, syair Sidang Fakir, syair Ikan Tongkol, dan syair Perahu. Adapun karangan-karangan Syakh Hamzah Fansuri yang berbentuk karya ilmiah antaranya ialah Asrarul Arifin fi Bayaani ‘Ilmis suluki watTauhid, Syarbul ‘Asyikin, Al-Muhtadi, Ruba’i Hamzah al-Fansuri.

Selanjutnya, mengenai pemikiran-pemikiran Al-Fansuri tentang tasawuf kelihatannya banyak dipengaruhi faham wahadatul wujud-nya Ibn Arabi kecenderungannya pada sufi Andalus ini bisa dilihat ketika ia mengajarkan bahwa Tuhan lebih dekat dari pada urat-urat leher manusia sendiri, dan bahwa Tuhan tidak bertempat, sekalipun sering dikatakan bahwa ia ada dimana-mana. Diantara ajaran tasawuf al –Fnasuri yang lain berkaitan dengan hakikat wujud dan penciptaan. Menurutnya, wujud itu hanyalah satu walaupun kelihatan banyak. Semua benda yang ada sebenarnya merupakan manifestasi dari yang haqiqi yang disebut al-Haqq Ta’ala.

Orang banyak menolak pemikiran Hmazah Fansuri karena faham wihdatul wujud, hulul, dan ittihad-Nya. Karena banyak orang yang mengklaim sebagai seorang zindiq, sesat, kafir dan sebagainya. Ada juga yang mengakui bahwa ia bermazhab Syafi’i. Dalam bidang gtasawuf ia mengikuti tarekat Qadiriyah yang dipelopori oleh Syaikh Abdul Qadir Jailani.

2. Syamsuddin Sumatrani dan pemikiran Tasawufnya

Syamsuddin al-Sumatrani ini merupakan tokoh sufi kenamaan di Aceh. Beliau adalah murid Hamzah Fansuri, yang mengajarkan faham wujudiyyah. Ia hidup pada masa kejayaan kesultanan Aceh(1607-1636). Dalam pemikiran tasawufnya, Syamsuddin Sumatrani membahas tentang Martabat Tujuh dan sifat dua puluh Tuhan.

Konsep Martabat Tujuh mengajarkan bahwa segala sesuatu yang ada dalam alam semesta, termasuk manusia, adalah aspek lahir dari hakikat yang Tunggal, yaitu Tuhan. Tuhan sebagai yang mutlak tidak dapat dikenal baik oleh akal, indera maupun khayal. Dia baru dapat dikenal sesudah ber-tajalli sebanyak tujuh martabat, sehingga tercipta alam semsta beserta isinya, termasuk manusia, sebagai aspek lahir dari Tuhan. Menurut Abdul Rahim Yunus, cara penggambaran ini menunjukkan bahwa Tuhan adalah satu-satunya wujud yang tidak berbentuk, tidak terbatas, dan tidak terhingga. Disisi lain metode ini juga untuk menunjukkan keterbatasan serta keragaman wujud yang tampak.

Diantara ajarannya adalah bahwa Tuhan saja yang wujud. Hal ini didasarkan pada ayat Al-qur’an:

Dia-lah Yang Awal, Yang Akhir, Yang Zhahir (tampak), dan Yang Batin (tersembunyi). Surat Al-Hadid:3

Konsep Martabat Tujuh cenderung berhubungan dengan teori Tanazzul dalam tasawuf. Tanazzul (tanzil) diartikan sebagai turunnya Wujud dengan penyingkapan Tuhan, darii kegaiban ke alam penampakan melalui berbagai tingkat perwujudan. Teori ini menggambarkan bahwa manusia sebagai makhluk sempurna merupakan pancaran dari Wujud Sejati, yang menurunkan Wujud-WujudNya dari alam rohani ke alam materi dalam bentuk manifestasi wujud secara hierarki wujud atau gradasi wujud. Proese penurunan wujud ini dalam referensi sufi dinamakan dengan tanazzul, yang dikenal melalui bentuk penyingkapan diri (tajalli).

3. Nuruddin al-Raniri

Namanya adalah Nur al-Din Muhammad ibn ‘Ali ibn Hasanji ibn Muhammad al-Raniri. Silsilah keturunan al-Raniri ini berasal dari India, keturunan Arab. Dipanggil al-Raniri karena beliau dilahirkan di daerah Ranir (Rander) yang terletak dekat Gujarat (India) pada tahun yang belum diketahui. Dan meninggal dunia pada 22 Dzulhijjah 1096 H/21 September 1658 M di India.

Nuruddin al-Raniri banyak menghasilkan tulisan. Di antara buku yang ditulisnya itu, ada tulisan yang khusus untuk mengecam atau mengkafirkan penganut ajaran Syamsudin dan Hamzah Fansuri. Ini karena kedua orang tersebut dikategorikan sebagai penganut paham Wahdat al-wujud. Pada masa itu sedang panasnya polemik di masyarakat mengenai ajaran kedua sufi ini, bahkan ada yang menganggap keduanya sesat. Ini ditolak dengan tegas oleh Nuruddin al-Raniri.

Pemikiran Nuruddin al-Raniri dapat dikategorikan menjadi lima bagian, yaitu:

Pertama, tentang tuhan. Pendiriannya dalam masalah ketuhanan pada umumnya bersifat kompromis. Ia berupaya menyatukan paham mutakallimin dengan paham para sufi yang diwakili Ibn ‘Arabi. Ia berpendapat bahwa ungkapan “wujud Allah dan Alam Esa” berarti alam ini merupakan sisi lahiriah dari hakikatnya yang batin yaitu Allah, sebagaimana yang dimaksud Ibn ‘Arabi. Namun, ungkapan itu pada hakikatnya adalah bahwa alam ini tidak ada. Yang ada hanyalah wujud Allah Yang Esa. Jadi, tidak dapat dikatakan bahwa alam ini berbeda atau bersatu dengan Allah.

Kedua, tentang alam. Pandangannya bahwa alam ini diciptakan Allah melalu tajalli. Ia menolak teori ­al-faidh (emanasi) al-Farabi karena akan membawa kepada pengakuan bahwa alam ini qadim sehingga dapat jatuh kepada kemusyrikan. Alam dan falak, menurutnya, meripakan wadah tajalli asma dan sifat Allah dalam bentuk yang kongkret. Sifat ilmu bertajalli pada alam akal, nama rahman bertajalli pada arsy; nama Rahim bertajalli pada kursy; nama Raziq bertajalli pada falak ketujuh; dan seterusnya.

Ketiga, tentang manusia, merupakan makhluk Allah yang paling sempurna di dunia ini. Sebab, manusia merupakan khalifah Allah di bumi yang dijadikan sesuai dengan citra-Nya. Juga, karena ia merupakan mazhhar (tempat kenyataan asma dan sifat Allah paling lengkap dan menyeluruh). Konsep insan kamil, katanya, pada dasarnya hampir sama dengan apa yang telah digariskan Ibn ‘Arabi.

Keempat, tentang Wujudiyyah, menurutnya inti ajaran Wujudiyyah berpusat pada wahdah al wujud, yang disalahartikan kaum wujudiyyah dengan arti kemanunggalan Allah dengan alam. Menurutnya, pendapat Hamzah al-Fansuri tentang wahdat al-wujud dapat membawa kepada kekafiran. Bagi al-Raniri bahwa jika benar Tuhan dan makhluk hakikatnya satu, maka dapat dikatakan bahwa manusia adalah Tuhan dan Tuhan adalah manusia, maka jadilah seluruh makhluk itu adalah Tuhan. Semua yang dilakukan manusia, baik buruk atau baik, Allah turut serta melakukannya. Jika demikian, maka manusia mempunyai sifat-sifat Tuhan.

Kelima, tentang hubungan syariat dan hakikat. Pemiisahan antara syariat dan hakikat, menurut al-Raniri, merupakan sesuatu yang tidak benar. Kelihatannya, al-Raniri, sangat menekankan syariat sebagai landasan esensial dalam tasawauf (hakikat).

4. Abd. Rauf as-Singkli

Abd. Rauf as Singkel seorag tokoh ulama dan mufti besar kerajaan Aceh pada abad ke 17 ini, nama lengkapnya adalah Abdur Rauf ibn Ali al-jawi al-Fansuri al-Singkli. Tahun kelahirannya tidak diketahui dengan pasti, tetapi ada yang menyebut tahun kelahirannya sekitar 1024 H/1615 M.

As-Singkli sempat menerima baiat tarekat syatariyah. Ulama Aceh ini berupaya mendamiakan ajaran martabat alam tujjuh yang dikenal di Aceh sebagai wahdatul wujud (pantheisme) dengan paham sunnah. Meskupin begitu syekh Abd. Rauf tetap menolak paham wujudiyah yang menganggap adanya penyatuan antara Tuhan dan hamba.

Pemikiran tasawuf as-Singkli daat dilihat, antara lain pada persoalan kecenderunagntuk merekonsiliasi antara tasawuf dan syariat, kendati demikian ajaran tasawufnya mirip dengan Syamsudin dan Nuruddin ar-Raniri yaitu penganut paham satu-satunya wujud hakiki, yaitu Allah. Sedangkan alam ciptaanNya bukanlah merupakan wujud hakiki, tetapi bayangan dari wujud yang hakiki. Menurutnya jelaslah Allah berbeda dengan alam. Walaupun demikian antara bayangan alam dengan yang memancarkan bayangan (Allah) tentu memperoleh keserupaan. Maka sifat-sifat manusia adalah bayangan-bayanagn Allah, seperti yang hidup yang tau dan yang melihat. Pada hakikatnya, setiap perbuatan-perbuatan adalah perbuatan Allah.

As-Singkli juga memmpunyai pemikiran tentang dzikir. Dzikir dalam pandangan as-Singkli merupakan suatu usaha untuk melepaskan diri dari sifat lalai dan lupa. Dengan dzikir inilah hati selalu mengingat Allah. Tujuan dzikir

Pancasila

”Tidak ada satu Weltanschauung dapat menjadi kenyataan, menjadi realiteit, jika tidak dengan perjuangan!” (Soekarno, 1 Juni 1945)

Pada 21 Juni 40 tahun lalu Bung Karno tiada. Namun, ia meninggalkan warisan besar berupa negeri merdeka ini dan ideologinya.

Dengan menggali Pancasila dari nilai-nilai luhur di bumi pertiwi, Soekarno memaksudkan pandangan hidup atau weltanschauung bagi Indonesia merdeka itu sebagai ideologi perjuangan.

Kehendak bersatu (le desir d’etre ensemble) sebagai syarat bangsa dari Ernest Renan tak akan cukup menjelaskan persoalan keadilan sosial dalam hubungan manusia dengan tempatnya bernaung (tanah air), sehingga masalah ini justru akan mengancam keberlanjutan kehendak bersatu itu.

Melalui ideologi perjuanganlah, bangsa ini mampu mengelola kebhinnekaannya, sebagai usaha bersama memperjuangkan kebebasan dari (freedom from) penindasan dan pemiskinan, sekaligus kebebasan untuk (freedom for) menggapai keadilan dan kemakmuran yang merata.

Tersandera

Sudah lama ideologi perjuangan itu tersandera karena para pemegang kekuasaan tidak mengelola optimal kebhinnekaan bangsa.

Keberagaman agama dan budaya diakui, namun masyarakat tidak dipupuk kemampuannya untuk hidup dalam perbedaan secara jernih, toleran, dan damai. Bhinneka Tunggal Ika lebih banyak dipahami secara simbolis melalui lambang-lambang kedaerahan, seperti baju tradisional, senjata adat, dan alat musik, yang ditonjolkan dalam berbagai acara kenegaraan dan wisata.

Di masa Orde Baru, persatuan dan kesatuan dijaga melalui kebijakan anti SARA (suku, agama, ras, dan antar golongan) dalam tatanan politik yang sentralistik. Orde Baru menyebut Pancasila sebagai “ideologi bukan ini, bukan itu”, terus menjadikannya sebagai “ideologi yang bukan-bukan”. Penguasa sering mencap “anti Pancasila” terhadap pihak-pihak yang mengkritisi dan menentang kekuasaannya. Kategori ekstrim kiri dan ekstrim kanan diberlakukan.

Weltanschauung direduksi menjadi formalisme butir-butir pekerti (36 butir) ala Eka Prasetia Pancakarsa melalui Tap MPR No II/ MPR/ 1978 tentang P4.

Pasal 1 Tap MPR itu menyebutkan bahwa P4 bukan merupakan tafsir Pancasila sebagai dasar negara, dan juga tidak dimaksud menafsirkan Pancasila Dasar Negara sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945, Batang Tubuh dan Penjelasannya. Artinya, Tap MPR tersebut menyangkal dirinya sendiri sebagai tafsir resmi Pancasila.

Tanpa hubungan yang jelas antara Tap MPR itu dengan Pancasila, Penataran P4 dijadikan sarana indoktrinasi yang diwajibkan bagi warga negara. P4 menjadi syarat bagi para birokrat yang ingin berkarir di birokrasi, para mahasiswa yang ingin meraih gelar sarjana, para pelajar, dan pihak-pihak lain yang tidak ingin akses politik dan ekonominya tersumbat.

Mungkin sudah trilyunan rupiah dana yang dikeluarkan, tapi Penataran P4 tidak jelas manfaatnya karena kesejahteraan rakyat tidak ada hubungannya dengan P4, dan bahkan penataran tersebut tidak ada kaitan dengan membaiknya moralitas pejabat, menurunnya korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Pada era reformasi, kehidupan politik kian pragmatis dan terus berlangsung tanpa Pancasila sebagai ideologi perjuangan.

Praksis tersebut tidak berlangsung dalam kevakuman. Ia berada dalam konteks struktural menyangkut proses akumulasi modal dan pembentukan-pembentukan sosial yang berlangsung secara nasional. Mengacu pada karya Foucault, Dicipline and Punish, proses akumulasi modal menghendaki tipe-tipe subjek tertentu, serta pranata-pranata sosial, politik, dan ekonomi tertentu.

Kebijakan pembangunan eksploitatif terus menjajakan kekayaan alam negeri ini dan menempatkan penduduk sebagai sumber tenaga kerja murah. Rakyat dipisahkan dari basis kehidupannya, adapun tanah air yang luas dan kaya lebih dinikmati segelintir kalangan dalam negeri dan pihak asing.

Hak-hak adat kurang dihargai. Penguasaan lahan petani makin sempit dan jumlah petani yang berubah menjadi buruh tani kian banyak karena tidak lagi memiliki lahan sendiri. Proletarisasi kaum tani membuat negeri ini menjadi pemasok buruh rendah dan pembantu rumah tangga.

Lebih satu juta keluarga nelayan masih menerima upah kurang dari dua dollar AS per hari dan semakin tergerus industri perikanan modern. Adapun pedagang kecil sering kesulitan memperoleh tempat usaha, kerap diperlakukan sewenang-wenang oleh aparat tramtib, hingga menghadapi persaingan tidak seimbang dari jaringan pemasaran modern.

Secara nasional, setelah Bank Dunia mengumumkan garis kemiskinan sekarang adalah pendapatan sebesar dua dollar AS per orang per hari, Kantor Perwakilan Bank Dunia di Jakarta menyatakan 112 juta jiwa atau lebih 50% dari rakyat Indonesia miskin (berbeda dengan “klaim pencitraan” pemerintah bahwa jumlah rakyat miskin “hanya” 32 juta jiwa atau 14%).

Rakyat yang termarginal tidak pernah mengalami Pancasila karena kepentingan akumulasi modal yang timpang membuat Pancasila dipisahkan dengan identitas-identitas lokal dan kehidupan sehari-hari di masyarakat.

Di tengah menyempitnya ruang penghubung, perajut dan pemakna kesadaran bersama, jiwa nasionalitas kehilangan daya dobraknya, sehingga menimbulkan solidaritas sosial yang sempit dan mempengaruhi relasi-relasi sosial antar agama, suku, dan etnis di masyarakat.

Ketidakmampuan memeriksa secara rasional relasi-relasi sosial merupakan cermin dari kenyataan bahwa di masyarakat yang memiliki banyak ketimpangan mengalami, meminjam istilah Jürgen Habermas (1979), systematically distorted communication, di mana komunikasi yang terjadi cenderung terdistorsi dan semu di masyarakat, sehingga orang-orang hanya mampu berkomunikasi dengan distorsi-distorsi tersebut.

Sejak dekade 1990-an, konflik antar suku dan agama terjadi di berbagai wilayah Indonesia, seperti Kalimantan, Maluku, dan Poso. Hingga kini, hubungan antar golongan kerap tidak berlangsung sinergis.

Soliditas

Restrukturisasi penguasaan sumber-sumber ekonomi yang adil merupakan isu penting untuk mengembalikan Pancasila sebagai ideologi perjuangan.

Basis agraris dan maritim seharusnya dikembalikan seluasnya kepada warga masyarakat. Landreform perlu digalakkan untuk merestrukturisasi penguasaan tanah yang mengutamakan kepentingan petani gurem dan buruh tani. Pembaruan kebijakan skema kredit, bantuan manajemen, dan jaringan pemasaran sepatutnya diprioritaskan untuk kepentingan kaum tani, nelayan dan usaha kecil sebagai mayoritas hidup rakyat. Adapun kesejahteraan dan peningkatan kemampuan buruh harus menjadi perhatian.

Namun, pertanyaan besar akan selalu menggayut, seberapa solid kemampuan bersama memperjuangkan cita-cita pendiri bangsa yang telah memerdekaan negeri ini?

Soekarno pernah berkata, “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”

Kisah mengenai Mukjizat Nabi Musa

<!--[if gte mso 9]> Normal 0 false false false false EN-US X-NONE X-NONE

Kisah mengenai Mukjizat Nabi Musa

Kisah mengenai Mukjizat Nabi Musa (Moses) yang membelah Laut Merah dengan tongkatnya untuk menghindari kejaran Fir’aun dan bala tentaranya tentunya sudah tak asing lagi ditelinga kita. Di kitab suci Al-Qur’an dan Alkitab, kronologi pengejaran dikisahkan begitu gamblang walaupun terdapat sedikit perberbedaan kisah diatara keduanya. Namun yang pasti, kedua kitab suci tersebut mengisahkan kepada kita mengenai akhir yang menggembirakan bagi Musa beserta Kaum Bani Israel karena dapat meloloskan diri dari kejaran Fir’aun beserta bala tentaranya. Dan bagi sang Fir’aun, ia justru menemui ajalnya setelah tenggelam bersama pasukannya di Laut Merah

Walaupun Al-Quran dan Alkitab sudah cukup jelas mengisahkan kronologi peristiwa itu terjadi, namun masih terdapat teka-teki mengenai siapa sebenarnya Fir’aun yang memimpin pengejaran terhadap Musa beserta kaum Bani Israel? Al-Quran dan Alkitab tidak menyebutkan secara mendetail siapakah Fir’aun yang dimaksud.

Fir’aun (Pharaoh) merupakan gelar yang diberikan kepada raja-raja Mesir kuno. Asal usul istilah Fir’aun sebetulnya merujuk kepada nama istana tempat berdiamnya seorang raja, namun lama – kelamaan digunakan sebagai gelar raja-raja Mesir kuno. Banyak Fir’aun yang telah memimpin peradaban yang terkenal dengan penginggalan Piramida Khufu-nya itu, mulai dari Raja Menes -sekitar 3000 SM, pendiri kerajaan, pemersatu Mesir hulu dan hilir – hingga Mesir jatuh dibawah kepemimpinan raja-raja dari Persia.

Sejauh ini telah banyak studi yang dilakukan untuk mengidentifikasi siapakah Fir’aun yang sedang berkuasa saat peristiwa keluarnya Musa beserta Bani Israel dari tanah Mesir. Berikut beberapa kandidatnya :

* Ahmose I (1550 SM – 1525 SM)
* Thutmose I (1506 SM – 1493 SM)
* Thutmose II (1494 SM – 1479 SM)
* Thutmose III (1479 SM – 1425 SM)
* Amenhotep II (1427 SM – 1401 SM)
* Amenhotep IV (1352 SM – 1336 SM)
* Horemheb (sekitar 1319 SM – 1292 SM)
* Ramesses I (sekitar 1292 SM – 1290 SM)
* Seti I (sekitar 1290 SM – 1279 SM)
* Ramesses II (1279 SM – 1213 SM)
* Merneptah (1213 SM – 1203 SM)
* Amenmesse (1203 SM – 1199 SM)
* Setnakhte (1190 SM – 1186 SM)

Dari daftar beberapa Fir’aun diatas, nama Ramesses II selama ini memang kerap diidentifikasikan sebagai Fir’aun yang sedang berkuasa pada saat itu. Ia merupakan sosok Fir’aun terbesar dan terkuat yang pernah memimpin peradaban Mesir kuno. Ramesses II juga merupakan salah satu Fir’aun yang paling lama berkuasa, yakni 66 tahun lamanya.

Sifatnya yang kadang tirani terhadap masyarakat kelas bawah, membuat sejarawan banyak yang berspekulasi dengan menyebutkan ia sebagai raja yang memperbudak Bani Israel. Walaupun demikian, tidak ada bukti arkeologi yang benar-benar memperkuat dugaan tersebut. Selain itu periode masa hidupnya juga dikatakan tidak cocok dengan kemungkinan terjadinya peristiwa keluaran.

Kemudian menilik ke Raja Merneptah – putra Ramesses II – yang berkuasa setelah Ramesses II mangkat, ia juga bukan merupakan Fir’aun yang dimaksud mengingat pada masa pemerintahannya, Merneptah pernah mengatakan bahwa Bangsa Israel telah tiba di tanah Kana’an. Itu artinya, peristiwa keluarnya Musa beserta Bani Israel telah lama terjadi sebelum ia berkuasa.

Lalu bagaimana dengan Seti I, ayah dari Ramesses II ? Bagaimanapun juga, ahli sejarah Alkitab mengatakan peristiwa keluaran ini terjadi disekitar 1400 SM, itu jauh dari masa pemerintahan Seti I.

Beberapa Sejarawan yang menggunakan metode penelitian dengan cara mencocokkan kronologi di dalam catatan-catatan peninggalan Mesir Kuno dengan perkiraan waktu keluaran pada kitab suci menyimpulkan, kemungkinan peristiwa itu terjadi saat Mesir kuno dibawah pimpinan Raja-raja Dinasti ke-18.

Dinasti ke-18 mencakup beberapa raja, yakni Thutmose I (1506 SM – 1493 SM), Thutmose II (1494 SM – 1479 SM), diselingi oleh kepempinan Fir’aun wanita yaitu Ratu Hatsepsut (1479 SM -1458 SM) kemudian Thutmose III (1479 SM – 1425 SM).

Benarkan Thutmose II Fir’aun yang tenggelam di Laut Merah?




Menurut studi yang dilakukan oleh Sejarawan Alan Gardiner, setelah kematian Thutmose I dan masa persinggahannya selama 40 tahun di Madyan / Midian, Musa memutuskan untuk kembali ke tanah Mesir tempat beliau dibesarkan. Allah menugaskan Musa untuk menyampaikan ajaran agama yang hakiki kepada Fir’aun. Pada saat itu, Mesir dipimpin oleh Raja Thutmose II yang memperistri Ratu Hatshepsut.


Thutmose II, menurut sejarah bukanlah sosok Fir’aun yang hebat, sebaliknya istrinya Hatshepsut yang banyak berperan penting bagi kemajuan kerajaan. Walaupun bukan merupakan sosok pemimpin yang dikatakan berpengaruh, Gardiner tetap meyakini Thutmose II merupakan kandidat terkuat fir’aun yang melakukan pengejaran terhadap Musa beserta kaum Bani Israel. Hal itu dikarenakan banyaknya kecocokan dengan studi sejarah yang ia lakukan.

Garnier juga menambahakan bahwa di pusara tempat berdiamnya mummi Thutmose II, hampir tidak ditemukan ornamen-ornamen dan benda-benda berharga “semewah” pusara raja-raja Mesir kuno yang lainnya. Ada kesan bahwa raja ini tidak begitu disukai dan dihormati oleh rakyatnya, sehingga mereka tak peduli dengan kematian sang Raja. Selain itu, kematiannya yang mendadak juga menjadi salah satu alasannya.

Penelitian terhadap Mummi Thutmose II yang ditemukan di situs Deir el-Bahri pada tahun 1881 mengungkapkan bahwa terdapat banyak bekas cidera di tubuhnya, dan Mummi-nya ditemukan tidak dalam kondisi yang bagus. Hal ini mungkin menandakan Thutmose II mati secara tidak wajar. Apakah cidera di tubuhnya itu akibat hempasan kekuatan gelombang Laut Merah yang secara tiba-tiba tertutup kembali? Wallahu ‘alam Bishawab

Al-Quran sendiri mengisahkan detik-detik terakhir kehidupan Sang Fir’aun :

Dan Kami memungkinkan Bani Israel melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir’aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir’aun itu telah hampir tenggelam berkatalah ia ;” Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israel, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. ( QS Yunus 90).

Dari ayat diatas kita dapat mengetahui bahwa Fir’aun mencoba memohon kepada Allah agar ia diselamatkan ketika air mengenggelamkan raganya. Namun sangatlah jelas bahwasannya tindakan Fir’aun hanyalah suatu kebohongan semata sebagai alasan untuk menyelamatkan dirinya sendiri dari maut.

Setelah sang Fir’aun tewas pada periode pemerintahannya yang tergolong singkat, besar kemungkinan jalannya roda pemerintahan diambil alih sementara oleh sang Ratu yang tak lain ialah Hatshepsut sebelum akhirnya Thutmose III naik tahta.

Jika benar Thutmose II merupakan Fir’aun yang dimaksud, ada suatu kemungkinan kronologi sejarahnya menjadi demikian :

Pertama, Musa dibesarkan dilingkungan kerajaan Mesir saat Thutmose I berkuasa, dan istri Thutmose I yang menemukan bayi Musa saat hanyut di Sungai Nil.

Kedua, selang puluhan tahun setelah Musa melarikan diri dari tanah Mesir karena ancaman hukuman mati akibat peristiwa terbunuhnya seorang prajurit kerajaan olehnya, ia kembali untuk menyampaikan ajaran Allah kepada Fir’aun. Namun pada saat itu mungkin Thutmose I telah meninggal dan digantikan putranya Thutmose II.


Mengapa Thutmose II Diyakini Sebagai Firaun Yang Tenggelam di Laut Merah Sedangkan Mummi-nya Sendiri Berhasil Ditemukan?

Pertanyaan diatas memang kerap ditanyakan. Mereka yang bertanya kebanyakan beranggapan bahwa Jasad Fir’aun tidak mungkin berhasil ditemukan apalagi dalam bentuk Mummi, sebab telah tenggelam di Laut Merah bersama bala tentaranya.

http://koranbaru.com/firaun-manakah-yang-tenggelam-di-laut-merah/